Wednesday, January 16, 2019

Kesaksian Pak Daud mantan Kyai dan Pak Fakhli mantan Ustad

Kesaksian Pak Daud mantan Kyai dan Pak Fakhli mantan Ustad

Gratis Download Mp3 disini .. clik.. Dengar & Download.
Pak Daud adalah seorang guru dari pak Fakhli, Tapi yang duluan percaya kepada Tuhan Yesus adalah pak Fakhli. Kalau pak Daud memiliki 5000 jin sedankan pak fakhli 3000 jin.

Bagaima terjadi pertobatan pak Fakhli…?
Waktu itu saya tinggal di pesantren, ketika saya belajar injil ternyata ketahuan, karena saya telah melanggar aturan, maka saya mendapat hukuman. Ketika saya mendapat hukuman, saya melihat sebuah cahaya yang datang kepada saya, dan cahaya itu kelihatan Tuhannya orang Kristen, Tuhan berkata kepada saya, “kalau engkau tetap begini akan mati, tapi kalau kamu ikut Aku, kamu akan hidup”. Dan saya mulai berkata Isa…Isa…Isa… Tolong saya.
Ketika saya menyebut nama-Nya tiga kali, rantai yang terikat di tangan saya, tiba-tiba putus, dan saya merasa ada kekuatan yang masuk kedalam tubuh saya. Selama 3 hari saya berjalan dari sukabumi ke bandung, dan di sana saya mendapat sebuah gereja. Lalu dari gereja tersebut mulai menolong saya. Kalau mau mendengar kesaksian yang lebih lengkap Download secara gratis di atas.
Bagaimana terjadi pertobatan pak Daud..?
Seorang anak muda yang bernama alfian yang beberapa hari datang ke masjid, setiap orang yang memiliki ilmu, datang kepada alfian untuk mengusir anak ini, ternyata tidak bisa, karena anak muda ini memiliki ilmu yang tinggi. Karena saya ada di situ, lalu seorang memberi tahukan saya untuk melihat alfian, ketika saya ketemu alfian, lalu saya bertanya anak muda engkau memiliki ilmu yang tinggi, tapi alfian katakan bahwa bukan saya yang memiliki ilmu yang tinggi tapi Yesus yang ada dalam diri saya. Lalau saya mau tantang alfian, saya katakan bahwa satu malam ini saya tantang kamu untuk melawan Yesus yang ada dalam diri kamu, alfian katakan baik.

Selama 2 jam saya mulai mempersiapkan diri saya. Tapi ternyata saya melihat alfian tidak buat apa-apa. Saya bertanya kepada alfian, kamu suda siap. Lalu anak alfian, katakan, bahwa saya suda siap dari tadi. Saya mulai memanggil jin saya, lalu saya Tanya kepada jin itu, bagaimana saya lawan dia, jin tersebut katakan bahwa anak ini harus di suruh tidur. 


Saya mulai katatan aturan pertandingan ini kamu harus tidur dan saya juga tidur, nanti Tuhan yang ada dalam diri kamu dan ilmu yang saya punya, nanti sendiri yang melawan, alfian katakan baik. Saya dan alfian tidur, jam 2.30 pagi saya menyanyi lagu “Allah kuasa melakukan segala perkara, Allah ku Maha Kuasa”, saya kaget bangun lalu saya melihat alfian suda bangun dan anak itu berkata, bapak selamat bahwah Yesus yang ada dalam diriku ada juga didalam diri bapak.
Disitu saya menolak, karena didalam hati saya kenapa saya bisa kalah sama anak kecil ini. Pada jam 5 pagi, saya mulai katakan kepada alfian, kamu mau ikut saya solat pagi, tapi alfian tidak mau, saya mau disini bersama Yesus. Ketika saya mulai solat pagi dari mulut saya katakan bahwa “Kalau Engkau adalah Allahku maka aku percaya bahwa Isak adalah keselamatanku”, kata ini sendiri muncul padahal saya tidak mau katakan kata tersebut.
Saya mulai keluar dan mencari alfian, ketika saya ketemu dia, saya berkata apa yang harus saya lakukan. Lalu anak itu katakan ikutlah jejak Yesus Kristus. Dari situ saya dengan alfian mulai berpisah, anak ini berkata bahwa “nanti kita ketemu di surga”, lalu anak ini pergi. Herannya, ketika waktu itu saya tidak Tanya tempat tinggalnya. Pada waktu itu ilmu saya hilang, dan seluruh jin yang ada pada saya juga pergi. Maka saya bertobat, saya cari alfian tersebut tapi tidak mendapatkanya.

Lalu saya Tanya Tuhan siapa anak itu..? Tuhan katakan, itu malikat yang Aku utus kepadamu. Ternyata cara Tuhan, untuk membuat kita bertobat dan percaya kepada Tuhan berbeda-beda. Tapi semua itu karena Kasih Karunia Tuhan kepada kita manusia.


Catatan:
Cerita ini bukan dibuat-buat, ini adalah kisah nyata, kalau masih ada yang belum percaya dapat Download Mp3 secara gratis. Kisah ini ditulis apa adanya sesuai dengan kesaksian yang disampaikan. Bagi saudara yang tidak setuju, saya minta maaf, tetapi kebenaran ini saya harus ceritakan. Biarlah kebenaran dari Allah yang menyinari cara berpikir kita sehingga kita dapat melihat jalan kehidupan kita.

Yesus Menyelamatkanku Dari Serangan Para Jin

Yesus Menyelamatkanku Dari Serangan Para Jin


Kesaksian Yupi
Bagagaimana saya mengenal Yesus, Siswa kerasukan dikelas, Cahaya yang terang, Membaca Quran terjemahan, Ada kuasa dalam Nama Yesus, Saya melangkah ke gereja. Terima kasih kepada Admin AI,
Sebenarnya saya sudah lama mengikuti situs ini, juga yang berbahasa Melayu. Puji syukur melalui situs ini keluarga saya, terutama mertua boleh menerima Yesus Kristus, yang secara akal pikiran manusia adalah mustahil bagi yang digelari haji dan hajjah, tetapi bagi Yesus tidak ada yg mustahil. Dia menjawab doa saya,... dan disini saya mengucapkan banyak terima kasih pada Saudara Hamzah serta meminta maaf kerena saya telah meng-kopi lagu-lagu beliau dan dibagi-bagikan kepada kawan-kawan saya.


Bagagaimana saya mengenal Yesus
Baiklah akan saya mulai kenapa saya boleh mengenal Yesus. Saya dilahirkan dari keluarga Islam, suku Melayu dari Kalimantan. Keluarga saya sangat taat, sejak kanak-kanak saya sudah disekolahkan di Madrasah sampai Aliyah. Malah saya juga diajarkan ilmu kebatinan, kekebalan, dan hal-hal gaib. Saya jadi sombong, karena saya bisa ke dunia lain berjumpa dengan jin-jin.
Siswa kerasukan dikelas
Satu peristiwa yang sedikit merubah pikiran saya adalah ketika banyak siswa dan siswi kesurupan saat kami sedang ikut mengaji, waktu itu saya dikelas 2. Semua guru pada panik, ketakutan. Saya yang punya ilmu coba mengatasi dengan segala mantra dan ayat Quran, tapi sia-sia, jin kawan saya tidak kunjung tiba, demikian juga Allah dan Nabi Junjungan biar saya sudah teriak-teriak, malah yang kesurupan tambah tidak karu-karuan.
Untuk menjaga harga diri, saya pergi dan kembali ke rumah. Saya kecewa, saya baca ayat Al Quran dan mantra, jin yang paling dekat dengan saya akhirnya muncul. Saya bertanya, “kemana kalian?” Jawabnya, “Maaf kawan anda kerasukan jin non Muslim, itu butuh ilmu yg amat tinggi.” Saya diam, menahan emosi untuk tidak menyalahkan agamaku, Nabiku yang saya shalawati dan Allah yang tauhid.
Cahaya yang terang
Karena ilmu saya kurang, saya akhirnya berguru sampai ke negeri Arab. Setahun kemudian saya pulang, dan karena merasa kuat akhirnya saya tantang umat Kristen, Hindu, dan Kaharingan yang saya benci. Memang sebagian dari mereka ada yang takluk, namun terakhir saya harus menyerah, roh saya telah meninggalkan tubuh saya dan dalam perjalanan saya bertemu dengan sebuah cahaya yang terang, dan sesosok wajah yang amat indah dan yang berkata, “Kembalilah Nak”.
Tiba-tiba saya terbangun, keluarga dan kerabat terkejut, ada yang berteriak, “Setannn.!!!” Ternyata saya sudah divonis mati setelah 6 hari tidak sadarkan diri. Mamaku datang memelukku, sambil berkata, “Nak…hidup, insyah Auloh...”
Setelah tamat Aliyah saya hijrah ke Indonesia, orang tuaku menginginkan saya studi di perguruan tinggi islam.
Tapi tanpa sepengetahuan mereka saya malah studi di sebuah universitas swasta. Saya tidak tahu mau ke jurusan mana. Malamnya saya bermimpi bertemu dengan orang yang pernah saya lihat dalam cahaya terang, dia memberikan saya stetoskop dan sebuah jarum suntik. Saya terbangun, kupikir mana mungkin dengan ijazah Aliyah yang pas-pasan.
Ternyata bagi Yesus tidak ada yg mustahil. Selama saya di Islam saya tidak pernah merasakan hadirat Allah. Yang ada hanya mahluk jin.
Membaca Quran terjemahan
Hati saya mulai terbuka, apalagi setelah mendapat Quran terjemahan. Betapa saya kaget dengan ayat-ayat yang saya baca, inikah wahyu Allah yang penuh ancaman, penuh kebencian? Demikian sejarah Muhammad, tak sebanding dengan nabi-nabi sebelumnya, begitu memalukan. Kalau di negeri asalku, buku-buku ini tidaklah mungkin didapat.
Ada kuasa dalam Nama Yesus
Namun meskipun demikian, saya masih tetap menjalankan ibadahku sebagai seorang Muslim. Suatu malam saat saya lagi sholat, datang jin-jin dan kali ini kedatangan mereka tidaklah bersahabat, mereka mulai menampakan wajah asli yang menyeramkan. Saya dipojokan dan leher saya dicekik. Saya berteriak dengan memanggil rabi, Allah...serta mantra-mantra, tapi tidak berhasil. Pada saat kritis saya ingat untuk mengucapkan kata “YESUS…!!!” Lalu saya berkata dengan sisa-sisa suara yang lemah, “Yesus tolonglah aku...!!!”
Sekejap ruangan jadi amat terang, jin-jin, serta setan-setan itu langsung menghilang, di depan saya berdiri seorang dengan pakaian putih dengan wajah yang sama seperti yang dulu saya lihat.
Saya tersungkur dan berkali-kali saya memanggil Yesus, berterima kasih padaNya. Saya merasa tanganNya membelai kepalaku, dan berkata jadilah anakKu.
Saya melangkah ke gereja
Saya merasa suka cita yang tak pernah saya alami, begitu damai, dan dari sinilah saya mulai melangkah ke gereja. Tapi jalan ini bukanlah mulus, berbagai rintangan beban, dan teman-teman Muslim-ku sudah menjauhiku. Malah sampai memusuhi. Tapi kasih Kristus meneguhkanku, teman-teman baruku sungguhlah teman sejati, kami bagaikan saudara tanpa memandang suku dan golongan. Tak adalah istilah kafir. Semester terakhir saya bertemu seorang wanita…
Oh Tuhan kenapa Engkau memilih seorang muslimah buat saya? Ternyata Tuhan berkehendak agar berkat kasihNya dapat saya salurkan pada orang lain. Selesai lulus, kami disatukan menjadi suami istri. Kini kami telah dikarunia 2 putra. Istri aktif di perkumpulan wanita.
Untuk teman-teman Muslim dan Muslimah, sekarang akses ke-internnet sudah sangat mudah tak seperti tahun 80-an, untuk belajar agama islam,  Quran, dan memikirkan intinya. Ada satu oknum yang tak pernah diajarkan, diberituhukan, dikabarkan Islam... Siapakah Dia? Isa Putra Maryam.

Tuhan Telah Membuka Mataku

Tuhan Telah Membuka Mataku


Oleh: Kartini A. I.
Latar bekakang saya, Saya suka berdebat dengan orang Kristen, Awal saya ke gereja, Saya jatuh sakit, Saya lihat surat Al-Ikhlas, Iman percaya saya “Al-Masih 'Isa”.
Kesaksian ini ditulis dengan harapan apa yang saya alami, kiranya bisa menjadi berkat baik bagi mereka yang telah percaya maupun yang belum percaya.
Latar bekakang saya
Sebelum saya percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat, saya adalah seorang Muslimah, berlatar belakang dari keluarga Muslim dan dibesarkan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Sukabumi Jawa Barat. Dari apa yang saya yakini dan pelajari selama itu, saya tumbuh menjadi seorang Muslimah yang fanatik dan anti-Kristen, dan menjebak bahkan mendebat orang Kristen paling hobi.
Berteriak-teriak di depan gereja dengan berkata: “Maria, dipanggil Yesus cuek saja” pun pernah saya lakukan. Karena saya merasa bahwa apa yang saya yakini waktu itu, adalah paling benar dan diridhoi Allah SWT, sesuai dengan Qs. Ali Imran 19 yang berbunyi: Innaddinna indallaahil Islam (Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam).
Di luar Islam semuanya saya anggap sesat, apa lagi orang Kristen, kafir, karena Allahnya ada tiga: Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus. Tapi alhamdullilah saya tidak pernah sampai membunuh orang Kristen.
Dan mengapa saya bisa percaya kepada Isa Almasih sebagai Tuhan dan Juruselamat? Walaupun saya bangga dengan apa yang saya yakini dulu, tapi kalau bicara tentang hari penghakiman, itu hal yang paling menakutkan dan paling ngeri buat saya, karena saya tidak tahu pasti, kalau saya mati apakah mendapat rahmat Allah (masuk surga) atau laknat Allah (masuk neraka), karena saya hanyalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa.
Saya suka berdebat dengan orang kristen
Dari Sukabumi saya hijrah ke Bandung untuk belajar ketrampilan. Di kota kembang ini saya tinggal di pondokan atau kost. Teman-teman saya kebanyakan orang Kristen dan kebiasaan saya yang dulu tidak pernah berubah, menjebak dan mendebat orang Kristen masih sering saya lakukan dan saya tetap benci pada orang Kristen.
Entah kenapa suatu hari saya ingin membaca Alkitab punya teman, dan ketika membuka kitab Kejadian ada tertulis “Allah menciptakan manusia dari tanah...” Saya heran, kok sama dengan Al Qur'an, padahal Injil itu kan sudah dipalsukan dsbnya, dan bahwa orang Kristen itu adalah orang ‘kafir’.
Awal saya ke gereja
Berawal dari penasaran itu saya mencari teman untuk pergi ke gereja. Saya ingin tahu dan ingin menyelidiki bagaimana orang Kristen beribadah. Benar saya masuk gereja dan kali pertama itu saya tidak bisa menahan rasa haru dan sedih, saya menangis hingga kebaktian selesai. Batin saya berontak antara merasa telah melakukan dosa murtad dan percaya, murtad karena masuk gereja dan percaya kepada Tuhan.
Minggu-minggu berikutnya, saya selalu ingin dan rindu untuk datang ke gereja lagi, dan selama empat bulan saya suka ke gereja, tapi selama itu saya tidak mau berdoa dalam nama Yesus atau Isa Al-Masih. Saya percaya kepada Allah tapi tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Anak Allah karena saya punya anggapan yang menyanggah keberadaan itu, yaitu surat Al Ikhlas yang berbunyi:
Qul huwallahu ahad (Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”)
Allaahush shamad  (Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
Lam yalid wa lain yuulad: (Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan)
Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad: (Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.)
Saya jatuh sakit
Meskipun saya ke gereja tapi kewajiban saya selaku orang Muslim untuk shalat lima waktu tetap saya kerjakan. Hingga pada suatu hari saya jatuh sakit; sesudah dua minggu sakit dan tidak ada tanda-tanda membaik, akhimya pada hari minggu ketiga, ketika seorang harnba Tuhan mengajak berdoa melalui televisi saya spontanitas ambil Alkitab dan tiba-tiba Alkitab terbuka sendiri. Di situ, Tuhan beri ayat untuk saya dan saya ingat sekali ayat itu:
“Seorang dara yang menderita pendarahan selama 12 tahun ketika Almasih ‘Isa lewat dia menjamah jubahNya, dia percaya dengan menjamah jubahNya dia akan sembuh.”
Saya pikir itu kok sama dengan saya. Akhirnya saya tantang Yesus, saya berdoa: “Ya Rabbi 'Isa kalau memang Engkau Tuhan dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit, sembuhkanlah saya,” dan mujizat terjadi besoknya, saya telah sembuh.
Saya lihat surat Al-Ikhlas
Akhirnya saya kaji lagi surat Al-Ikhlas yang menjadi sanggahan untuk percaya tentang Isa Al-Masih itu dan saya bandingkan dengan kisah kehidupan Isa Putra Maryam, dari mulai kelahiran, mujizat-mujizatNya, sampai kepada kematian dan kebangkitanNya kembali bahkan kedatanganNya yang kedua kali. Yang lebih melekat di hati saya, adalah Isa Putra Maryam bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kalau manusia bisa seperti itu, dia pasti takabur apalagi kalau tidak ada dasar kasih dalam hatinya. Di samping itu, yang berkuasa atas hidup matinya manusia hanya Penciptanya sendiri yaitu Allah.
Dari kesemua ayat-ayat Al-Ikhlas itulah saya bisa membuktikan kalau Isa (Yesus) itu adalah Allah. Tuhan bukakan mata rohani saya, yang selama ini tertutup oleh illah-illah zaman ini dan saat itu bisa percaya bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak hanya nabi tapi Dia juga benar-benar Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pada suatu hari saya butuh legalisir ijazah saya di Sukabumi untuk melanjutkan sekolah di Bandung. Saya harus pergi ke sekolah saya yang dulu, di mana saya sekolah dan nyantri. Ketika saya minta legalisasi, entah kenapa surat kelakuan baik saya dari Kepolisian terbaca oleh mereka dan di situ agama saya tertulis Kristen Protestan sedangkan ijazah saya dari Tsanawiyah. Akhirnya bukan menerima legalisasi tapi malah berdebat dengan guru-guru dan Ustad saya. Akhirnya saya pulang ke Bandung dengan tangan hampa.
Setelah saya bisa percaya bahwa Isa itu Tuhan dan Rabboni, tantangan pertama malah datang dari orang Kristen sendiri. Saya dulu menilai orang-orang Kristen yang suka ke gereja itu baik-baik karena ada ajaran kasih tapi ternyata tidak. Saya pernah dimaki-maki dan diolok-olok “Kamu jadi Kristennya pura-pura, mana mungkin orang pesantren bisa masuk Kristen, dasar tukang pelet, tukang santet dll”.
Saya datang ke orang tua saya
Dari kesedihan itulah saya ingin pulang ke rumah untuk mengadu ke orang tua saya. Tapi apa yang saya dapatkan ketika saya sampai di rumah, semua keluarga menjauhi. Saya heran, kenapa semuanya berubah seperti ini, bahkan ketika orang tua saya bilang: “Kamu dikasih apa sih sama mereka, sampai kamu bisa menjual agama kamu dan masuk Kristen?” Saya kaget orang tua saya tahu dari mana? Dan dikiranya saya masuk Kristen dikasih supermi atau dikasih apa saja sama gereja, seperti apa yang mereka sangka selama ini, bahwa orang Islam masuk Kristen dirayu atau dikasih uang atau pula dikasih makanan.
Dan caci maki pun keluar. Ayah saya bilang: “Aku tidak pernah menyangka kamu bisa jadi kayak gini. Kalau kamu berbuat dosa kayak apapun masih bisa diampuni tapi ini dosa murtad, dosa yang tidak bisa diampuni lagi. Dulu aku bangga kamu bisa ngajar ngaji, dipakai di masyarakat tapi sekarang tidak ada artinya lagi. Aku sampai disidang oleh ketua yayasan dan guru-guru disitu dimaki-maki gara-gara kamu masuk Kristen. Kamu benar-benar telah mencemarkan nama baik Pesantren sampai bisa masuk Kristen. Entah ditaruh di mana mukaku dan nama baik keluarga ini oleh kamu. Kamu ini kalau binatang, pasti sudah dibunuh saking sudah benar-benar mencemarkan nama baik. Sampah di pinggir jalan masih ada harganya, tapi kamu tidak ada harganya sama sekali. Dan biar kamu tahu, nama kamu itu sudah ayah masukkan proposal dan dikirim ke Menteri Agama.”
Untuk apa??? Tanyaku. “Biar suatu saat kalau terjadi apa-apa sama kamu, saya sebagai orang tua sudah tidak mau bertanggung jawab lagi gara-­gara kamu masuk Kristen.” Demikian jawab ayah.
Bagaikan disambar geledek di siang bolong. Kenapa mereka tega seperti itu? Dan lengkaplah sudah penderitaan saya waktu itu, rupanya setelah kejadian legalisasi ijazah, ketua yayasan langsung memanggil orang tua saya, hingga akhirnya mereka sepakat nama saya dimasukkan proposal dan dikirim ke Departemen Agama. Setelah tahu seperti itu, saya tidak ada pilihan lain lagi selain pergi dari rumah dan bertekad dalam hati “Ya Rabboni 'Isa, saya tidak akan meninggalkan Engkau, walau pun orang tua dan saudara  saya mengabaikan saya. Hanya padamulah Tuhan aku serahkan segala bebanku ini”. Tuhan Allah telah amat baik kepada diri saya. Walau pun saya telah pergi tanpa dibekali apa-apa oleh ibu dan bapa, Tuhan Allah Bapa surgawiku tidak pernah mengabaikan saya! Halleluyah! Alhamdullilah! Sejak saat itu Allah Bapa surgawilah yang telah membekali saya setiap kali baik dari segi rohani dan fisikal, dan Dia tidak pernah mungkiri janji-janjiNya kepada setiap domba-dombanya termasuk saya!
Iman percaya saya “Al-Masih 'Isa”
Sehingga akhirnya tibalah waktunya bagi saya untuk menyatakan iman percaya saya kepada Al-Masih 'Isa sebagai Tuhan dan Juruselamat saya melalui Baptisan Kudus di gereja GKI Jabar di Bandung pada bulan Desember 1994, setelah selama sembilan bulan belajar katekisasi. Setelah selesai baptisan itu saya berdoa, “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memeteraikan saya, tetapi saya tidak ingin hanya saya saja yang selamat, saya pun ingin keluarga dan saudara-saudara saya diselamatkan, dan saya ingin menjadi Penginjil, untuk memberitakan kabar keselamatan yang berasal dari Engkau seperti yang telah saya terima.”
Dan ajaib sekali Tuhan kita itu, Dia kirim dua orang ibu dengan membawa buku-buku penginjilan banyak sekali, padahal sebelumnya saya tidak pernah mengenal dan sama sekali belum pernah bertemu dengan dua orang ibu itu, dan itu merupakan sukacita yang sangat besar sekali saya rasakan. Itu sebagai jawaban dari doa saya untuk menjadi penginjil, dan puji Tuhan saya diperkenankan belajar di Pusat Latihan 'Christian Centre Nehemia' Jakarta dan dari apa yang saya alami saya menyimpulkan:
1.    Tidak ada kekuatiran dalam nama Rabbi 'Isa.
2.    Kita tidak bisa bersandar pada kekuatan manusia sekalipun itu orang tua sendiri.
3.    Dan keselamatan tidak bisa kita peroleh dengan amal baik kita atau dengan coba mengumpul pahala sebanyak-banyaknya, karena keselamatan itu suatu anugerah dan hanya ada di dalam nama 'Isa Al-Masih.
Demikianlah kesaksian ini saya tulis, sebagai rasa ucapan syukur saya karena Rabboni Al-Masih 'Isa Putra Maryam telah menyelamatkan saya dari lembah dosa dan kegelapan dan yang telah membawa ke dalam terang Allah yang ajaib.
Amin ya robbal alamin,Hormat kami, Kartini A.I.
Catatan redaksi:
Dua orang ibu tersebut menemukan alamat yang bersangkutan di suatu toko buku di Bandung. Dua orang ibu itu merasa terbeban dan mencari alamatnya sampai ketemu. Berkat Tuhan! Tuhan sendiri yang menuntun mereka, pasti ketemu.
Hodu ladonai! Puji Tuhan! Halleluya!
Tuhan memberkati mereka semua Amin
Ulasan redaksi:
Kebanyakan orang Muslim, seperti saudara Kartini A.I. banyak membenci dan mendebat orang Kristen, padahal Al Qur'an menyebutkan orang Kristen, orang Nasrani itu persahabatannya paling dekat dengan orang lslam.

Sunday, August 7, 2016

David and Svea Flood

David and Svea Flood

The following story is true and encourages us that  that God has a purpose for everything He allows in our lives.   We are not to dispise the day of small beginnings!
The full story can be found in “Aggie; A Girl Without a Country” (previously published under the title, “One Witness“), written by Aggie Hurst
 
David and Svea Flood
In 1921, a missionary couple named David and Svea Flood went with their two-year-old son David, from Sweden to the heart of Africa—to what was then called the Belgian Congo. They met up with another young Scandinavian couple, the Ericksons, and the four of them sought God for direction. In those days of much tenderness and devotion and sacrifice, they felt led of the Lord to go out from the main mission station and take the gospel to a remote area.
This was a huge step of faith. At the remote village of N’dolera they were rebuffed by the chief, who would not let them enter his village for fear of alienating the local gods. The two couples opted to go half a mile up the slope and build their own mud huts.
They prayed for a spiritual breakthrough, but there was none. Their only contact with the villagers was a young boy, who was allowed to sell them chickens and eggs twice a week. Svea Flood — a tiny woman missionary only four feet, eight inches tall, decided that if this was the only African she could talk to, she would try to lead the boy to Jesus. And in fact, after many weeks of loving and witnessing to him, he trusted Christ as his Savior.
But there were no other encouragements. Meanwhile, malaria continued to strike one member of the little band after another. In time the Ericksons decided they had had enough suffering and left to return to the central mission station. David and Svea Flood remained near N’dolera to go on alone.
Then, of all things, Svea found herself pregnant in the middle of the primitive wilderness. When the time came for her to give birth (1923), the village chief softened enough to allow a midwife to help her. A little girl was born, whom they named Aina (A-ee-nah).
The delivery, however, was exhausting, and Svea Flood was already weak from bouts of malaria. The birth process was a heavy blow to her stamina. After seventeen desperate days of prayer and struggle, she died.
Inside David Flood, something snapped in that moment. His heart full of bitterness, he dug a crude grave, buried his twenty-seven-year-old wife and took his children back down the mountain to the mission station. Giving his newborn daughter to the Ericksons, he said, “I’m going back to Sweden. I’ve lost my wife, and I can’t take care of this baby. God has ruined my life.” With two year old David, he headed for the coast, rejecting not only his calling, but God himself.
Within eight months both the Ericksons were stricken with a mysterious illness (some believe they were poisoned by a local chief who hated the missionaries) and died within days of each other. The nine month old baby Aina was given to an American missionary couple named Berg, who adjusted her Swedish name to “Aggie” and eventually brought her back to the United States at age three.
The Bergs loved little Aggie but were afraid that if they tried to return to Africa, some legal obstacle might separate her from them since they had at that time, been unable to legally adopt her. So they decided to stay in the United States and switch from missionary work to pastoral ministry. And that is how Aggie grew up in South Dakota. As a young woman, she attended North Central Bible college in Minneapolis. There she met and married a young preacher named Dewey Hurst.
Years passed. The Hursts enjoyed a fruitful ministry. Aggie gave birth first to a daughter, then a son. In time her husband became president of a Christian college in the Seattle area, and Aggie was intrigued to find so much Scandinavian heritage there.
One day around 1963, a Swedish religious magazine appeared in her mailbox. She had no idea who sent it, and of course she couldn’t read the words. But as she turned the pages, all of a sudden a photo stopped her cold. There in a primitive setting in the heart of Africa was a grave with a white cross and on the cross was her mother’s name, SVEA FLOOD.
Aggie jumped in her car and drove straight to a college faculty member who, she knew, could translate the article. “What does this say?” she asked.
The instructor translated the story:
It tells about missionaries who went to N’dolera in the heart of the Belgian Congo in 1921… the birth of a white baby girl… the death of the young missionary mother… the one little African boy who had been led to Christ… and how, after the all whites had left, the little African boy grew up and persuaded the chief to let him build a school in the village.
The article told how that gradually the now grown up boy won all his students to Christ… the children led their parents to Christ… even the chief had become a Christian. Today (1963) there were six hundred Christian believers in that one village.
Because of the willingness of David and Svea Flood to answer God’s call to Africa, because they endured so much but were still faithful to witness and lead one little boy to trust Jesus, God had saved six hundred people. And the little boy, as a grown man, became head of the Pentacostal Church and leader of 110,000 Christians in Zaire (formerly the Belgian Congo).
At the time Svea Flood died, it appeared, to human reason, that God had led the young couple to Africa, only to desert them in their time of deepest need. It would be forty years before God’s amazing grace and His real plan for the village of N’dolera would be known.
For Rev. Dewey and Aggie Hurst’s twenty-fifth wedding anniversary, the college presented them with the gift of a vacation to Sweden. There Aggie met her biological father. An old man now, David Flood had remarried, fathered four more children, and generally dissipated his life with alcohol. He had recently suffered a stroke. Still bitter, he had one rule in his family: “Never mention the name of God because God took everything from me.”
After an emotional reunion with her half brothers and half sister, Aggie brought up the subject of seeing her father. The others hesitated. “You can talk to him,” they replied, “even though he’s very ill now. But you need to know that whenever he hears the name of God, he flies into a rage.”
Aggie could not be deterred. She walked into the squalid apartment, with liquor bottles everywhere, and approached the seventy-three-year-old man lying in a rumpled bed.
“Papa?” she said tentatively.
He turned and began to cry. “Aina,” he said, “I never meant to give you away.”
“It’s all right Papa,” she replied, taking him gently in her arms. “God took care of me.”
The man instantly stiffened. The tears stopped.
“God forgot all of us. Our lives have been like this because of Him.” He turned his face back to the wall.
Aggie stroked his face and then continued, undaunted.
“Papa, I’ve got a little story to tell you, and it’s a true one.
You didn’t go to Africa in vain. Mama didn’t die in vain.
The little boy you both won to the Lord grew up to win that whole village to Jesus Christ. The one seed you planted just kept growing and growing. Today (about 1964) there are six hundred African people serving the Lord because you and Momma were faithful to the call of God on your life.”
“Papa, Jesus loves you. He has never hated you.”
The old man turned back to look into his daughter’s eyes. His body relaxed. He began to talk. And by the end of the afternoon, he had come back to the God he had resented for so many decades.
Over the next few days, father and daughter enjoyed warm moments together. Aggie and her husband soon had to return to America—and within a few weeks, David Flood had gone into eternity.
A few years later, the Hursts were attending a high-level evangelism conference in London, England, where a report was given from the nation of Zaire (the former Belgian Congo). The superintendent of the national church, representing some 110,000 baptized believers, spoke eloquently of the gospel’s spread in his nation. Aggie could not help going up afterward to ask him if he had ever heard of David and Svea Flood. “I am their daughter.”
The man began to weep. “Yes, madam,” the man replied in French, his words then being translated into English.
“It was Svea Flood who led me to Jesus Christ. I was the boy who brought food to your parents before you were born. In fact, to this day your mother’s grave and her memory are honored by all of us.”
He embraced her in a long, sobbing hug. Then he continued, “You must come to Africa to see, because your mother is the most famous person in our history.”
In time that is exactly what Aggie Hurst and her husband did. They were welcomed by cheering throngs of villagers. She even met the man who so many years before, when she was less than a month old, had been hired by her father to carry her down the mountain in a soft bark hammock.
The most dramatic moment, of course, was when the pastor escorted Aggie to see her mother’s grave, marked with a white cross, for herself. She knelt in the soil of Africa, the place of her birth, to pray and give thanks. Later that day, in the church service, the pastor read from John 12:24:
“I tell you the truth, unless a kernel of wheat falls to the ground and dies, it remains only a single seed. But if it dies, it produces many seeds.”
He then followed with Psalm 126:5: “They who sow in tears shall reap in joy.”
(An excerpt from Aggie Hurst, Aggie: The Inspiring Story of A Girl Without A Country [Springfield, MO: Gospel Publishing House, 1986].)

Sebuah Kisah Nyata dari Afrika

Sebuah Kisah Nyata dari Afrika
Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan di Afrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire. Mereka adalah David & Svea Flood, serta Joel & Bertha Erickson.
Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria. Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah," demikian kata penduduk desa itu.

Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.
Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut. Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa. Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.
David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"
Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan: "Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.
Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.
Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami- istri Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Konggo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya. Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya.
Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia. Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).
Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat. Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?" Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!"
Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.
Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana- mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya.
Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi." Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".
Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar." Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.
Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!

David dan Svea Flood

Pada tahun 1921 ada sepasang suami isteri dari Swedia yang memiliki belas kasihan terhadap orang-orang di Afrika. Belas kasihan itu muncul karena perjumpaan mereka dengan pribadi yang penuh belas kasihan yaitu Yesus Kristus.
Semangat belas kasihan David dan Svea Flood mengalahkan banyaknya tantangan dan kesukaran yang mereka harus hadapi. Sampai satu kali mereka bertemu dengan seorang anak kecil dan dengan tekun Svea memperhatikan dan melayani anak kecil tersebut hingga si anak kecil tersebut  menerima Yesus Kristus.
Namun tantangan dan kesukaran yang mereka harus hadapi semakin bertambah: selain penolakan dari kepala suku dan dukun yang ada, penyakit malaria pun terus menyerang mereka. David Flood merasa kedatangan mereka ke Afrika tidak ada gunanya karena mereka mengalami kegagalan, terlebih isterinya telah meninggal dunia setelah melahirkan bayi perempuan mereka.
Dalam keadan kecewa David Flood meninggalkan kuburan isterinya di Afrika dan menitipkan bayi perempuannya kepada misionaris Swedia yang lain. Tapi delapan bulan kemudian ayah dan ibu angkat  Aggie pun meninggal dunia dan Aggie pun diserahkan kepada misionaris Amerika. Aggie si bayi perempuan Flood dibesarkan di Amerika.
Saat Aggie beranjak dewasa ia mendapat kiriman majalah Kristen dengan berbahasa Swedia di kotak suratnya. Saat ia melihat sebuah halaman di majalah tersebut ia  terhenti  kaget karena foto-foto yang ada di majalah tersebut. Ada sebuah kuburan primitif dengan salib putih dan di salib tertulis nama Svea Flood.
Aggie pun spontan beranjak ke mobilnya dan pergi menemui seseorang yang bisa menerjemahkan artikel berbahasa Swedia tersebut. Kemudian penerjemah itu mengatakan bahwa saat itu ada pasangan suami isteri misionaris yang datang ke Afrika yang memperkenalkan Yesus kepada seorang bocah laki-laki. Suami isteri ini dikaruniai seorang anak perempuan tapi ibunya meninggal dunia setelah beberapa hari. Namun melalui anak kecil yang pernah dibimbing Svea Flood, Allah telah menyelamatkan 600 orang Zaire. Ketika si bocah tersebut beranjak dewasa ia mendirikan sekolah di desanya tersebut dan oleh semangat belas kasihan Kristus yang ia peroleh dari Svea kini ia telah menjadi Pemimpin dari Gereja Pentakosta di Zaire dan memimpin 110.000 orang-orang Kristen di Zaire.
Karena semua hal itu Aggie jadi teringat dan terpikir untuk menemui ayahnya di Swedia dan beberapa tahun kemudian ia dan suaminya pergi mencari dan menemui ayahnya yang sudah berusia 73 tahun. Ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi dengan ayahnya yang masih kepahitan dengan TUHAN dan terikat dengan minuman alkohol. Namun kedatangan Aggie membuat perubahan bagi ayahnya, setelah mendengarkan semua cerita Aggie ayahnya menangis dan kembali menaikkan doa pertobatannya karena selama ini ia membenci TUHAN
Mungkin awalnya di mata David Flood, ia dan istrinya telah gagal sebagai seorang misionaris. Namun jerih payah di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Terbukti bahwa belas kasihan dan kepedulian yang disertai pemberitaan Injil terhadap satu orang melahirkan 600 orang yang bertobat dan dimuridkan. Sudahkah kita hari ini menjadi saluran belas kasihan Tuhan bagi sesama?

Monday, January 18, 2016

26 TANDA AKAN KEDATANGAN TUHAN YANG SEGERA

26 TANDA AKAN KEDATANGAN TUHAN YANG SEGERA

 Bookmark and Share
 

1. Pengajar Alkitab palsu yang lapar akan uang. Mereka akan berbicara dengan halus, memiliki banyak pengikut, dan mencerca iman Kristen (2 Petrus 2:1-3) Lihat beberapa di: 
Fakemessiah.com

2. 
Homoseksualitas akan semakin jelas pada akhir zaman (2 Timotius 3:3)

3. 
Gempa bumi akan terjadi di berbagai tempat (Matius 24:7)

4. 
Stres akan menjadi bagian dari hidup (2 Timotius 3:1)

5. 
Banyak perang yang akan terjadi (Matius 24:6)

6. 
Orang-orang akan meninggalkan Sepuluh Perintah Allah sebagai kode moral, berzinah, mencuri, berbohong, dan membunuh (Matius 24:12)

7. Akan ada 
sistem keagamaan yang dingin, menyangkal kuasa Allah (2 Timotius 3:5)

8. Manusia akan 
mengganti kebenaran Kristen dengan Fantasi (2 Timotius 4:4). Ini sangat jelas terjadi pada Natal dimana kelahiran Sang Juruselamat hilang di balik mitos Santa Claus.

9. Penyakit mematikan akan menjadi lazim (Matius 24:7). Di seluruh dunia kematian AIDS meningkat hampir tak terhitung. Lebih dari 160.000 orang Amerika meninggal karena kanker setiap tahun.

10. 
Fakta bahwa Allah pernah membanjiri bumi (banjir Nuh - air bah) akan ditolak (2 Petrus 3:5-6). Ada banyak bukti fosil untuk membuktikan fakta ini, namun itu diabaikan oleh dunia ilmiah karena adanya keanehan.

11. 
Institusi perkawinan akan ditinggalkan oleh banyak orang (1 Timotius 4:3)

12. Akan ada 
peningkatan kelaparan (Matius 24:7)

13. 
Peningkatan vegetarian akan meningkat (1 Timotius 4:3-4)

14. Akan ada 
seruan perdamaian (1 Tesalonika 5:3)

15. 
Kepemilikan Yerusalem akan menjadi pusat gejolak internasional (Zakharia 12:3)

16. 
Pengetahuan akan meningkat (Daniel 12:4)

17. Akan ada 
orang-orang munafik dalam Gereja (Matius 13:25-30)

18. Akan ada 
peningkatan sekte agama / guru-guru palsu (Matius 24:11 & 24)

19. 
Masa depan akan tampak menakutkan bagi banyak orang (Lukas 21:26)

20. 
Kemanusiaan akan menjadi materialistik (2 Timotius 3:4)

21. Akan ada banyak orang yang terlibat dalam perjalanan (Daniel 12:4)

22. 
Penginjilan akan diberitakan sebagai peringatan kepada semua bangsa (Matius 24:14)

23. Yesus berkata 
orang Kristen akan dibenci "oleh karena nama-Nya" (Matius 24:9)

24. Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. (Lukas 21:25-26).

25: Pemuda akan menjadi pemberontak. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama (2 Timotius 3:2)

26: Manusia akan mengejek tanda-tanda peringatan dari akhir zaman berkata, "Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." (2 Petrus 3:4). Alkitab bahkan mengungkapkan motivasi mereka, mereka menuruti hawa nafsu (ayat 3). Mereka gagal untuk memahami bahwa satu hari bagi Tuhan adalah sama dengan seribu tahun bagi kita. Tuhan tidak tunduk pada waktu yang Dia ciptakan. Dia bisa membolak-balik waktu seperti kita membolak-balik halaman sebuah buku sejarah. Alasan Dia tampaknya menjadi diam, karena IA sabar menunggu, tidak bersedia satupun binasa, tetapi agar semua orang berbalik dan bertobat.



Kesaksian Lainnya





Penglihatan Buddy Bake



Kesaksian Philipa Yang Dibawa Ke Surga